inspirasinema

Inspiring Movies of All-Time

Persepolis (2007)

Negara: Perancis
Tahun: 2007
Sutradara: Vincent Paronnaud, Marjane Satrapi
Pengisi Suara: Chiara Mastroianni, Catherine Deneuve dan Gena Rowlands
Durasi: 96 menit

Persepolis adalah film animasi tentang kehidupan Marjane Satrapi. Film ini disutradarai oleh Marjane Satrapi dan Vincent Paronnaud, ini bisa diartikan Persepolis adalah semacam autobiografi, sesuatu yang jarang dalam genre perfilman dunia. Persepolis memunculkan beberapa kontroversi di dalam isi filmnya.

Film ini bercerita tentang hidup seorang wanita Iran yang bernama Marjane Satrapi. Konflik yang diangkat dalam film ini diambil dari perspektif kaum proletar di Iran. Mereka kebanyakan adalah orang-orang yang berhaluan kiri dalam memperjuangkan revolusi Iran. Marjane dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berhaluan nasionalis – sekuler. Mereka menentang keras kediktatoran rezim Syah Iran. Namun, di sisi lain mereka juga tidak sepaham dengan ideolog religi yang diusung oleh mayoritas pendukung revolusi. Internalisasi nilai pada diri Marjane berlangsung di lingkungan keluarganya. Ayahnya adalah orang yang menentang keras Rezim Syah. Kakek dan pamannya merupakan pejuang revolusi yang keluar-masuk penjara.

Setelah revolusi berhasil menumbangkan rezim Syah, muncul masalah baru di tengah-tengah keluarga Marjane. Penggambaran masalah ini mewakili perasaan banyak rakyat Iran ketika mereka masuk di era pasca-revolusi. Keluarga Marjane yang tadinya merupakan pejuang revolusi, berubah menjadi keluarga yang senantiasa diintimidasi oleh aparat pemerintah. Hal ini disebabkan adanya perebutan kekuasaan antara elemen pendukung revolusi. Revolusi yang berhasil menumbangkan Rezim Syah Iran ternyata memunculkan ideologi tunggal yang bersifat memaksa dan menekan. Ideologi yang dimaksud adalah Wilayatul Faqih yang menjadi legenda dalam sejarah revolusi Islam. Dengan adanya sistem baru yang jauh berbeda dari sebelumnya, masyarakat Iran dipaksa untuk menjalankan kehidupannya berdasarkan syariat Islam yang dipahami secara tunggal oleh pemimpin. Hal ini tentu saja menimbulkan instabilitas horisontal di dalam masyarakat. Nilai-nilai kebebasan yang selama ini diimpikan sebelum revolusi ternyata jauh panggang dari api.

Momo: Life is a void. When man realizes that he can no longer live, so he invents power games…
Marjane as a teenager: Bullshit! Life isn’t absurd! Some people give their lives for freedom. You think my uncle died for fun? Egotistical prick.

Kondisi ini kemudian diperparah dengan adanya Perang Irak – Iran selama 8 tahun (1980 – 1988). Delapan tahun masa perang memberikan kesempatan bagi Khomeini dan Wilayatul Faqihnya untuk mengakar dalam sistem pemerintahan dan konstitusi Iran yang baru. Pada akhirnya, usaha ini mendatangkan korban di kalangan masyarakat Iran. Mereka yang menjadi korban secara langsung adalah golongan yang tidak sepaham dengan sistem syariat Islam yang diberlakukan di Iran. Kisah mereka diwakili oleh Marjane Satrapi dan keluarganya.

Marjane’s grandmother: Listen. I don’t like to preach, but here’s some advice. You’ll meet a lot of jerks in life. If they hurt you, remember it’s because they’re stupid. Don’t react to their cruelty. There’s nothing worse than bitterness and revenge. Keep your dignity and be true to yourself.

Menurut saya, Persepolis adalah film yang independen. Film ini berhasil meneriakkan emosi dari Marjane Satrapi sendiri. Bagaimana ia kesal terhadap perlakuan dari orang lain maupun aparat negara. Di sini keguncangan pemerintahan Iran yang banyak disorot dari kacamata Marjane Satrapi. Background perang dan intrik politik dari rezim yang berkuasa menjadi tema awal yang disorot. Hingga kemudian menjurus masalah kewanitaan menurut Marjane Satrapi sendiri. Kata-kata kasar yang merupakan luapan emosi Marjane Satrapi memang layak diacungi jempol lewat kebebasannya. Namun, ini adalah Iran, semua ada peraturannya sendiri. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Keadaan Iran di masa lalu digambarkan carut marut oleh Marjane. Marjane sendiri yang liberal menganggap peraturan yang diberlakukan adalah penolakan darinnya. Kemunculan ‘polisi moral’ yang membuat seorang Marjane berteriak sesuai hati nuraninya memang tidak bisa dianggap salah maupun benar. Karena saya tidak sependapat sepenuhnya dengan karakter Marjane Satrapi maupun ‘polisi moral’ itu. Saya malah punya pendapat sendiri mengenai kebenaran itu. Tapi jika dilihat dari lokasi Marjane tinggal, Iran yang memegang hukum Islam (Islamic Republic of Iran), saya cenderung memihak pada ‘polisi moral’ itu. Walaupun menjengkelkan karena ruang gerak kita menjadi terbatas, namun keberadaannya memang sangat dibutuhkan untuk sekarang ini, dimana moral sudah dirusak oleh nafsu manusia sendiri.

Karakter Marjane Satrapi sebagai wanita yang punya pandangan sinis terhadap perempuan Islam dilukiskan dalam animasi yang sederhana namun solid. Bagaimana animasinya berjalan punya seni keartistikan sendiri. Keren sekali. Walaupun tidak semewah animasi buatan Disney/Pixar namun nuansa gelap film ini mampu mewakili suasana hati Marjane sendiri. Ada yang unik dari film ini, yaitu animasi berwarna hitam putih ketika menceritakan masa lalu. Mayoritas durasinya memang menceritakan masa lalu Marjane Satrapi yang gelap dan penuh dengan kesialan sehingga film ini sangat hitam putih. Persepolis merupakan sebuah tontonan sangat menghibur dan mengedukasi. Bagaimana bisa sebuah film animasi bisa bertutur politik dan dramatisasi kehidupan seseorang secara artistik dan menarik. Film ini berhasil mendapatkan penghargaan Jury Prize di Festival Film Cannes tahun 2007. Selamat! (Review by Achmad Muchtar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: