inspirasinema

Inspiring Movies of All-Time

The Butterfly Effect (2004)

Negara: Amerika Serikat
Tahun: 2004
Sutradara: Erick Brass dan J. Mackye Gruber
Pemain: Ashton Kutcher, Amy Smart and Melora Walters
Durasi: 113 menit

Pernah merasa bersalah berlebihan hingga ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya? Masalah ini menjadi tema yang diusung oleh film The Butterfly Effect. Film keluaran tahun 2004 ini dibintangi oleh bintang muda Ashton Kutcher. Dia terkenal di acara komedi televisi terkenal, That’s 70’s Show. Film dengan genre misteri, drama, science-fiction dan thriller. Sebelumnya saya tidak menyangka jika film yang dibintangi oleh Ashton Kutcher ini akan membuat saya kagum. Sebelumnya film-film yang ia bitangi selalu kurang berkualitas. Namun dalam film garapan Erick Brass dan J. Mackye Gruber ini, saya berani memuji aktingnya beserta keunikan filmnya.

Evan Trebor adalah seorang anak yang punya kelainan yang diwariskan oleh ayahnya. Dia punya penyakit kehilangan memori jangka pendek. Contohnya suatu saat dia menggambar sesuatu yang aneh namun setelahnya dia tak bisa ingat mengapa dia menggambar itu. Berbagai kenangan pahit pun dia lalui bersama teman-temanya. Dari kematian ayahnya, kenakalan temannya, hingga perlakuan orang tua temannya yang phaedofilia dia catat di dalam jurnal hariannya. Karena banyaknya kejadian buruk, Evan dan ibunya pindah rumah, meninggalkan pacarnya. Menjelang dewasa, dia mendapati teman-temannya punya nasib buruk. Dengan alasan inilah Evan menjelajah waktu melalui jurnal hariannya untuk memperbaiki masa lalu. Apa yang hendak Evan perbaiki?

Dengan tema time travel, film ini punya alur cerita yang unik, plotnya yang tak beraturan. Ceritanya jika ditelaah terbilang sederhana, namun dikemas dengan editing yang luar biasa. Alurnya maju mundur tak beraturan dan terasa seperti terpenggal-penggal. Seperti dalam film time travel lainnya, jika kita mengubah masa lalu sedikitpun, imbasnya akan terjadi di masa depan atau sekarang. Nah, yang dialami Evan Trebor di sini amat terlalu sulit. Disamping harus menyelamatkan masa depan ia juga dihadapkan berbagai pilihan yang merupakan resiko dari tindakannya. Perjalanan waktu menjadi terasa begitu menyakitkan. Terdapat banyak pilihan kesempatan dengan resikonya masing-masing.

Film ini memang bukan film remaja biasa. Terdapat banyak kekerasan dalam film ini. Mulai dari bullying di masa kanak-kanak hingga kata-kata kasar dan ketelanjangan.

Perjalanan waktunya pun unik. Evan Trebor yang punya penyakit aneh dengan bantuan jurnalnya dia bisa kembali ke masa lalu. Aneh tapi unik. Belum pernah saya menonton film semenarik ini. Banyak pesan moral yang disampaikan melalui film ini. Orang lain boleh mengkritik pedas film ini, namun saya akan sebaliknya dengan memuji film ini. Jarang ada film yang membuat saya penasaran dari awal hingga akhir. Saya sangat suka dengan ending film ini, menyesakkan namun membuat saya puas. Sebenarnya ada 3 alternative ending, namun saya memilih versi theatrical-nya.

Menonton film ini bisa mengingatkan kita pada film tentang perjalanan waktu seperti Back to the Future. Disini Evan berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahan dan menggagalkan kenakalan di masa lalunya. Cukup rumit memang, namun film ini dikemas dengan gambar yang menawan. Akting Ashton Kutcher yang biasanya dibawah standar kini berubah total. Dia cukup serius bermain dalam film ini. Bisa jadi The Butterfly Effect adalah film terbaik yang dibintanginya. Berbagai drama menarik ditampilkan dan berusaha Evan gagalkan yang membuahkan drama baru dan efeknya terjadi di masa sekarang. Masalah demi masalah datang seirama dengan pemecahan masalah yang telah Evan hadapi. Melalui film ini, kita bisa belajar menghargai waktu. Bahwa waktu itu tak akan bisa datang kembali. Sekali kita melakukan kesalahan atau meremehkan masalah, efek itu akan muncul di masa yang akan datang. Film ini patut disimak sebagai referensi kita bahwa begitu sangat berharganya waktu. Kita pun bisa lebih hati-hati dalam bertindak. Yeah, it’s good movie.

Waktu memang tidak akan kembali. Namun melalui film ini Anda akan mengerti betapa berharganya waktu. Sekali pun kita tidak berani mengatakan hal yang harus dikatakan atau melakukan apapun yang harus dilakukan, semuanya akan berimbas di masa mendatang. Mungkin Anda sekarang sudah bahagia seandainya berani mengambil keputusan yang benar di masa lalu. (Review by Achmad Muchtar)

One response to “The Butterfly Effect (2004)

  1. Ardiabara Januari 19, 2013 pukul 21:04

    Menurut gua sih seharusnya si evan ntu diending film dicitrakan bahwa sakit jiwa, untuk lebih merasionalkan filmnya. Jadi sebenarnya film ini bercerita tentang seseorang yang menderita schizophrenia (kayak film beautiful mind, dan shutter island). bukan mengenai perjalanan waktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: